Namaku Doni Eka Rahman, aku kelahiran 2 Oktober 1994, tinggi badanku 170
cm, berat badanku 51 kg, hobyku adalah menggambar, menulis, dan bernyanyi, hmmm
dan hal yang paling aku benci adalah berenang.
Aku baru duduk di kelas X SMA Negeri 3 Harapan Jaya, hari
ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah melewati masa-masa MOPD yang
menyeramkan dicaci dan dimaki oleh para seniorku, dan baju putih abulah yang
kini aku kenakan. Aku pamit pada kedua orangtuaku dan dengan penuh harapan aku
melangkah pergi ke sekolah. Di sekolah, aku masuk kelas X-D, di kelas ini tidak
ada yang ku kenali seorang pun, satu hal lagi, rumahku jaraknya cukup jauh dengan
sekolah, tapi hari-hariku pergi ke sekolah hanya dilalui dengan jalan kaki.
Hari ini ku injakkan kakiku di kelas baruku, aku pun bingung
memilih teman sebangku, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dengan tiba-tiba,
tak lama kemudian orang yang menepuk pundakku itu berbicara.
“Hai, namaku Fauzi Hermawan, panggil saja Fauzi” sapa seseorang
yang menepuk pundakku tersebut, aku pun memutar arah pandangku dan dia
melanjutkan dengan ajakan jabatan tangan.
Aku pun menjabat tangannya sambil menunjukkan senyuman yang
lebar.
“Hai, aku Doni Eka Rahman, panggil saja Eka” jawabku sambil
memegang jenggotku yang baru tumbuh dengan tangan kiriku.
Aku pun menatap dia dari atas sampai bawah, ternyata dia
seorang laki-laki berhidung mancung dan kulit putih dingin, tapi ku rasa dia
bukan “Vampire”.
“Boleh jadi teman sebangku?” tanya laki-laki berhidung
mancung itu dengan ramah dan nada rendah.
“Hmmmmm, boleh” jawabku spontan dan masih dengan senyuman
lebar.
“Anak mana?” tanyanya lagi untuk basa-basi, aku pikir sih
begitu.
“Lumayan jauh dari daerah sini” dengan singkat dan tak
nyambung itulah jawabanku.
Dia pun malah tertawa. Menurutku, Fauzi adalah tipe orang
yang ramah yang bisa bergaul dengan siapa saja. Aku dan Fauzi duduk paling
depan dekat meja guru, dan di belakang tempat dudukku ada dua orang gadis
cantik, panggilah mereka Lita dan Dara.
Tiba-tiba bel sekolah pun terdengar, semua siswa dan guru
pun pergi ke lapang untuk melaksanakan upacara bendera pertama tahun ajaran
baru.
Semua siswa kelas X dengan rapi melaksanakan upacara,
berbeda dengan kakak-kakak senior yang berisik. Dan bapak kepala sekolah
berpidato dengan pidatonya yang panjang lebar.
Upacara pun selesai, aku berkenalan dengan teman-teman sekelasku
yang lainnya, dan pelajaran bla bla bla yahhh buatku stress saja, setelah
waktunya pulang, aku dan Fauzi pulang bersama, tapi, tiba-tiba ada seorang perempuan
cantik berambut lurus panjang hitam lebat, berkulit putih, tinggi, dan
berhidung mancung menghampiri langkah kami, dia tersenyum, seolah-olah dia
hanya tersenyum untukku, aku merasakan rasa yang beda dari biasanya.
Setelah sampai ke rumah aku mencium ibuku, lalu kami makan
siang. Ayah dan kakakku sedang bekerja, dan sangat jarang berada di rumah.
***
Keesokan harinya aku pun ingin mencari tahu siapa perempuan
cantik yang ku lihat kemarin, tetapi dengan tidak sengaja pada saat waktu
istirahat aku lihat lagi wajah perempuan cantik tersebut di kursi kantin sekolah
yang sedang berbincang dengan teman sebangkuku, Fauzi. Aku pun merasa heran dan
langsung mendekati mereka dengan wajah ceriaku.
“Boleh gabung?” pintaku pada mereka berdua.
“Tentu saja” jawab Fauzi ramah.
“Hai, Ratna Nanda Putri” itulah nama lengkapnya dan dia
mengajakku bekenalan dengan memberitahukan nama aslinya sambil menunjukkan
senyuman manisnya.
Aku pun terdiam beberapa detik sambil menatap wajahnya.
“Kenalkan aku Eka, lengkapnya Doni Eka Rahman.
Ngomong-ngomong kelas berapa? Temannya Fauzi ya? Kamu…. Cantik” sapaku sambil
menjabat tangannya dengan waktu yang cukup lama, dan mungkin mataku tak
berkedip sedikitpun.
Ratna hanya tersenyum, dan menganggukan kepalanya sambil
mengucapkan kata “Thanks”.
“Dia sahabatku dari SMP, dia kelas X-F” sela Fauzi dengan
cepat sambil mengusap wajahku dengan tangan kirinya.
“Bukan nanya sama kamu kali Zi” sindirku sambil tersenyum
malu.
Dari sanalah aku kenal dia dan kami jadi semakin dekat satu
sama lain, aku pun baru sadar kenapa saat pertama kali melihat dia, dia
tersenyum, itu karena dia kenal dengan Fauzi, aku pun merasa malu, tapi aku
cuek saja karena tak mungkin ada yang tahu hal itu.
Saat malam tiba aku buka akun facebookku di komputer lamaku,
diam-diam aku mencari nama Ratna Nanda Putri, saat berhasil menemukannya, senyuman
manis terpancar diwajahku, aku lihat status dia, ternyata dia belum punya
pacar, lalu aku menambahkan dia sebagai teman, aku tersenyum membaca
catatan-catatannya, itulah mungkin awal ku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Foto profilnya selalu menjadi inti pandanganku saat itu, sampai-sampai aku pun
menyimpan foto-fotonya di komputerku. Setelah beberapa menit kemudian ada satu
pemberitahuan di akun facebookku, ternyata dia menirama permintaan
pertemananku.
“Terimakasih atas konfirmasinya” itulah yang ku tulis di dinding facebooknya.
“Sama-sama, Eka ya?” itulah pertanyaan balik yang dia tulis
di dindingku.
“Iya, hehehehe” balasku sambil garuk-garuk kepala dan
tersenyum sendiri.
Pessssshhhhhhhhh tiba-tiba listrik padam. Akupun menunggu listriknya
menyala, ternyata pukul 23.00 WIB baru menyala, dan dia pun telah offline.
Akhirnya aku tulis pesan dinding terakhir sebelum aku tidur dan berharap bisa
memimpikan dia.
“Met bobo ya, moga mimpi indah”
***
Dua minggu berlalu, aku telah mengenal Ratna lebih dekat, aku
putuskan untuk menyatakan perasaanku pada dia saat pulang sekolah nanti, hatiku
begitu gembira, padahal dia belum tentu mau menerimaku.
Bel jam pelajaran selesai pun berbunyi.
“Kamu duluan aja ya Ka (diambil dari nama tengahku, Eka),
aku mau ke perpustakaan dulu” saut Fauzi dengan menepuk-nepuk dadaku.
Aku merasa heran dan aku pun lari keluar untuk menunggu
Ratna lewat didepan kelasku, dan tidak lama kemudian dia pun melangkah
menghampiriku seperti bidadari turun dari kahyangan, hahahhaha.
“Pulang bareng yuk Ka! Fauzi?” ajakkan dan pertanyaan yang
membuat aku bingung.
“Hmmmm, ayo. Kebetulan, Fauzi tadi ke perpustakaan dulu,
katanya duluan saja” jawabku dengan detak jantung yang cukup kencang.
Saat kami sudah melangkah cukup jauh dari gerbang sekolah
terucap kalimat dari mulutku.
“Na, hmmmm boleh ga (menghela nafas) mmm aku bicara sesuatu?”
dengan paras sedikit gugup.
“Apa? Boleh ko boleh, kenapa? Ada yang penting? Apa ada
berita baik?” pertanyaan penasaran pun keluar dari mulut Ratna.
“Ak (menghela nafas) ku suka lo samaaaaaaa kamu” sambil
memalingkan muka merahku ke langit yang biru, lalu ku coba menendang beberapa
krikil di jalan.
“Ouh mau jadi pacar aku? Boleh, kok bisa suka sama aku?”
dengan gampangnya dia jawab seperti itu, oh my god, ga aku sangka, aku langsung
garuk kepalaku sekencang-kencangnya.
“Awwwwww !! huhhhhh, Beneran? Emang kamu belum punya pacar?”
tanya aku kembali sambil mengusap dada.
“Belum” dengan muka polos dia jawab seperti itu.
“Oh, hmmm aku suka sama kamu karena kamu perhatian sama aku,
minggu depan aku main ya ke rumah kamu? Terus anterin kamu setiap hari?” sambil
senyum-senyum tersipu malu.
“Ouh gitu. Boleh, hari ini juga boleh ko” dengan ringannya
dia jawab seperti itu.
“Bukannya gak mau, tapi hari ini aku janji sama ibu untuk
bantu belanja, sebenarnya sedikit belum siap sihh hehe” jawabku sambil
memasukan tanganku ke saku celana.
“Ouh, iya sampai jumpa besok pacarku” dengan senyuman manis
dia melambaikan tangannya dan dia pun naik kendaraan umum, karena dia terus
menoleh padaku, kepalanya kejedot pintu mobil.
Akupun hanya bisa bilang “yes”. Rasanya tahu si dia suka
sama aku tuh, kaya ngebelah langit berlapis-lapis, naik paus akrobatik menuju
rasi bintang paliiiiiiiiiiiing tinggi, karena hidup itu penuh rasa (iklan).
***
Keesokan hari pun tiba, dan langsung ada yang menyapaku
dengan nada tinggi,
“Ka, kamu pacaran ya sama Ratna?” tanya Fauzi.
“Yap. Kakakkakamu tahu dari mana?” tanya aku balik dengan
nada gagap.
“Ya dari Ratna lah, semalam dia sms-an sama aku, ga ngasih
tahu aku dikau, gimana sih, tapi aku sudah mengira hal itu” jawab dia dengan
nada ringan sambil tertawa kecil. Aku pun terdiam sebentar.
“Ouhhhh begitu, yaaaaaaa maaf, hehehehehe” muka ku pun merah
kembali.
“Minggu depan kamu mau main ke rumah Ratna? Ga akan kapok?
Aku ga ikut ya” lagi-lagi dia menyela.
“Iya, hmmmm siapa juga yang mau ajakin dirimu” aku pun tak
bertanya-tanya tentang kakaknya Ratna.
Dengan santai aku masuk kelas dan menyimpan tasku di atas
meja. Aku lari-lari di tempat, maksudnya sih aku senang, tapi semua teman
sekelasku malah melihatku, aku pun malu dan lari keluar kelas.
***
Minggu berikutnya yang aku tunggu-tunggu pun tiba, saat
pulang sekolah aku langsung pergi menemui Ratna dan tanpa basa-basi kami
langsung pergi ke rumah dia, dan 20 menit kemudian tanpa disadari kami pun
telah sampai dan langsung disambut oleh ke lima kakaknya, wowww mengejutkan,
tiba-tiba satu persatu dari mereka memperkenalkan diri.
Rezza Pratama, Raffa Dwi Putra, Rakka Tricahya, Rizzal
Fauzan, dan Reva Ramadhan, kira-kira seperti itulah urutan mereka, sampai
teringat-ingat di kepalaku, tampang mereka keren-keren ala boy band korea gitu,
badannya pun kekar-kekar, pantas saja adik mereka cantik jelita laksana putri
bidadari.
“Doni kak, Doni Eka Rahman, panggil aja Eka” dengan menghela
nafas aku jabat tangan mereka satu per satu.
“Pacarnya Ratna?” tanya salah seorang kakaknya yang bernama
Raffa.
“Wahhh, adik kita sudah mulai berani ternyata, hhahhahhahha
membawa laki-laki ke rumah” kata kakaknya yang satu lagi, kalau tidak salah namanya
Rizzal.
“Iya kak” aku jawab pertanyaan kak Raffa dengan gugup campur
malu.
“Ka, ayo masuk, aku kenalin sama orang tuaku” ajak Ratna
padaku, dan aku pun mulai menjauh dari kakak-kakanya Ratna.
Ka Reva pun memperlihatkan jari tengahnya padaku, aku pun
berjalan masuk ke pintu rumahnya, dan ternyata rumahnya gedeeeee banget, kaya
istana lah pokoknya.
“Ibu, ini ku kenalin samaaaaaaaaaaaa,” diapun berbisik pada
orang tuanya “Pacar pertamaku” dan Ratna mencium kedua orangtuanya, aku pun
menyalami mereka sambil menyapa.
“Siang om, tante, saya Doni Eka Rahman, panggil saja Eka,
hmmm pacarnya Ratna” detak jantungku semakin kencang.
“Iya, kemarin dia cerita banyak tentang kamu” Ibunya pun
ramah.
“Jadi malu tante, oh iya om tante gimana kabarnya? Maaf Eka
gak bisa bawa apa-apa” basi-basi pun aku mulai.
“Baik. Iya ga apa-apa nak Eka, mau minum apa? Biar Ratna
ambilkan”
“Ga usah repot-repot tante” sambil berharap diberi jus
mangga.
Tiba-tiba Ratna datang dengan membawa nampan, aku pun tak
tahu dia bawakan apa untukku.
“Ini, jus jeruk, silakan diminum, maaf kalau gak suka, habis
tadi gak jawab” kata Ratna dengan lembut.
Dan kebetulan banget aku memang gak suka sama yang namanya
jus jeruk, oh my god, dengan perlahan aku pun minum jus itu, huft, aku menghela
nafasku.
Setelah lama kami berbincang-bincang, akhirnya aku putuskan
untuk pamit karena waktu mulai sore, Ratna pun mengantarkanku sampai kegerbang
depan. Dia lambaikan tangan padaku dan berkata “hati-hati ya sayang” oh betapa
senangnya hatiku saat itu, tapiiiiiiiii setelah tidak jauh ku melangkah, kelima
kakaknya Ratna pun menghentikan langkahku, dan salah seorang dari mereka yaitu
kak Rakka berbicara padaku sambil memegang kerah seragamku.
“Buka bajumu sekarang juga ! Atau kami hajar kau sampai
babak belur” nada tinggi dan gagah keluar.
“Buat apa kak?” dengan ketakutan aku pun akhirnya mengalah.
Tapi tiba-tiba terhentak lagi dari mulut kak Reva.
“Celananya kenapa ga dibuka? kamu masih belum mengerti juga
ya rupanya?” dengan nada sok jagoan.
“I, i, iya kak, tunggu sebentar, tapi kan kak” nada
memperihatinkan keluar dari mulutku, oh sungguh malang nasibku.
“Oh, jadi ngelawan nih ceritanya?” tanya kak Rezza dengan
sinis.
“Bu, bukan begitu kak, iya baiklah kak kalau memang ini yang
kakak mau” aku pun dengan perlahan membuka celanaku. Aku pun akhirnya disuruh
pergi, dan mereka pun tertawa bahagia, lucu kali ya melihat aku telanjang
menderita.
“Jaga adikku baik-baik, jangan sampai kau mengecewakannya” kakaknya
yang bernama Rizzal Fauzan berteriak memberi pesan padaku sambil melambaikan
tangannya. Aku hanya tertunduk, tangan dimasukkan kedalam saku boxerku, sambil
menendang krikil di jalanan.
Sialnya, semua uangku ada di kantong celana, dengan boxer
ini pun aku melangkah malu, terpaksa aku harus berjalan kaki sampai rumah, dan
berpikiran mustahil bahwa ku bisa naik kendaraan umum gratis dengan boxerku ini,
aku pun tertawa disana. Tiba-tiba cuaca mendung, hujan pun turun, derasnya gak
nahan, tahu yang namanya kedinginan? Ouhhhhhh dinginnnn banget, tapi tak apalah,
mungkin cinta butuh perjuangan, itulah yang ku bisikkan di benak hatiku.
Setelah sampai ke rumah, dengan tubuh yang menggigil
kedinginan dan basah kuyup, aku sudah tahu bahwa ibu dan kakakku Dian tidak ada
di rumah, mereka pasti sedang sibuk, apalagi ayahku yang jarang sekali ada di
rumah. Ku duduk dan merangkul lututku di teras rumah dengan menarik nafas,
menunduk dan memejamkan mataku. Kemudian setelah agak lama hujan reda dan ku pandang
langit sore, selalu terbayang nama Ratna.
Setelah aku membuka kunci pintu, aku mandi, aku lekas tidur
dan berharap tidak akan terkena flu. Dan untuk sekian kalinya aku berharap agar
memimpikan Ratna.
***
Saat aku terbangun dari tidurku, ku lihat jam, menunjukkan
pukul 06.30, aku pun baru ingat, seragamku yang satu lagi basah karena kemarin
kehujanan diluar, ya ampun sialnya aku, aku pun setrika dulu sampai benar-benar
kering, dengan ditemani flu gara-gara kehujanan kemarin sore, aku pun berbicara
sendiri pada barang-barang di sekelilingku.
“Hahhhhh (menghela nafas), jam, jam, kenapa kau tak
bangunkan tidurku (padahal aku telah dibangunkan, tapi aku aku tak
menghiraukannya), tahukah kamu setrika, aku itu bangun kesiangan, kenapa kau tak
menyetrika bajuku sendiri, sudah tahu bajuku basah, kalian juga piring, sendok
dan kompor, tahu kan kalau aku ini belum sarapan? Harusnya kalian mengerti situasiku,
aku itu kemarin sialnya minta ampun, lain kali kalian harus masak sendiri,
kalian sudah dewasa. (satu menit kemudian) Pintu, aku berangkat dulu ya, semoga
saja aku gak kesiangan, ingat jaga rumah, jangan bukakan pintu untuk orang
asing yang tidak kamu kenal” aku pun lari tak pedulikan apapun sampai lupa
memakai sepatu.
Setelah tiba di sekolah, apa? Pintu gerbang sudah ditutup.
Ouh jangan sampai, aku pun terpaksa kena hukuman, dengan perut lapar aku
lari-lari keliling lapangan dan dilanjutkan dengan hormat bendera sampai jam
istirahat. Dan tidak ku sangka, Ratna membawakanku makanan dan juga seragamku,
katanya kakaknya hanya mengujiku saja (itukan gak lucu), dia meminta maaf, dan
aku hanya bisa tersenyum bahagia.
Tahukah kalian saat aku sedang berdua di lapang? Semua siswa
menontonku, dan berteriak “OHH SO SWEET” , itukan gak lucu juga. Dan Bapak
Drs.Ganjar Sastrawan masih ku kenang namanya sampai sekarang, kenapa? Karena
dia yang menghukumku.
Gara-gara hukuman itu semua badanku sakit, kakiku terkilir
dan tanganku terasa patah. Ratna memijatku di tengah lapang sambil memegang
jidatku, mungkin mukaku sudah terlalu pucat ya? Dan ia pun berbicara padaku.
“Maafkan aku, itu semua gara-gara aku” dengan muka layu
(bunga kali).
“Engga kok, akunya saja yang lemah” kekesalanku tak ku
tunjukkan sedikitpun, karena aku tak mau buat wajahnya semakin layu.
Ya ampun, lama-lama cinta bisa buat aku gila, harus berapa
lama lagi ujian cinta ini berlangsung? Akupun menghela nafas kembali lalu
meluruskan kakiku lalu ku baringkan tubuhku, kemudian aku bangun dan pergi ke
UKS.
***
Hari-hari sial kemarin pun sudah berlalu, hari ini ku antarkan
pacarku pulang sampai ke rumahnya, aku harap tak ada hal aneh lagi
menghampiriku, dan sesampainya aku pulang pun tak ada kejadian yang aneh,
sampai akhirnya kendaraan umum yang ku naiki kecelakaan, kendaraannya menabrak
pohon jati gedeeee yang tingginya 9 meter yang daunnya pun telah berguguran dan
jatuh ke jurang yang sangat dalam, kepalaku membentur batu dan mengeluarkan darah,
saat itu pun aku koma dan tak sadarkan diri.
Aku dirawat di RS Sakti Prakarsa (tentunya rumah sakit
terdekat), dan aku terluka parah, darahku tak henti-hentinya keluar dari
kepalaku. Saat aku terbaring, Ratna dan keluarganya menjengukku, Ratna menangis
dan memegang tanganku, dan berdo’a agar aku cepat sembuh, dan dia pun rela
menggantikan posisiku, ayahku pun tidak tidur semalaman, dan aku tahu bahwa
semua orang menyayangiku, mereka tak mau aku kenapa-napa. Setelah aku sadar,
ibu menceritakannya padaku, dan aku memeluk ibuku sambil menangis dan
mengatakan aku sayang ibu. Dan Fauzi mengintip di balik pintu sambil memvideo
aku menangis, kan bodoh!! Temanku masih bisa bercanda disaat ku terluka.
Mungkin video itu sudah tersebar luas.
***
Setelah seminggu aku dirawat di rumah sakit, dokter pun
mengizinkanku pulang, untuk beberapa hari aku tidak sekolah, guru-guru dan
teman-temanku pun menjengukku, apalagi pacarku, dia selalu membawakanku makanan
buatannya sendiri.
“Cepet sembuh ya sayang, Ratna sayang Eka.” itulah kata-kata
bijak pacarku yang sekaligus menghibur dukaku.
“Iya sayang, Eka sayang Ratna.” aku pun membalasnya dengan memegang
kedua tangannya lalu menciumnya, dan dilanjutkan dengan membelai rambut
panjangnya.
Aku sadar kerjaanku hanya terbaring di tempat tidur, tapi apalah
daya, sakit yang lumayan, singgah pada ragaku. Setiap hari memakan bubur,
perban-perban membalut tubuh dan kepalaku, juga kakiku yang sulit tuk
digerakkan, tapi aku bahagia, karena aku beruntung mempunyai orang-orang yang
menyayangiku.
***
Beberapa minggu pun berlalu, aku sembuh dari sakitku, tapi
bekas luka tersebut masih menempel di badanku, aku pun bersekolah seperti
biasanya, dan Fauzi pun diam-diam telah mepunyai pacar, panggil saja Dewi, dari
kelas X-A, dan semenjak itu kami pun selalu berkumpul ber-empat. Tapi bukan
berarti kami melupakan sahabat kami.
Dan minggu depan adalah ulang tahun pacarku, tepatnya
tanggal 7 desember. Mungkin disinilah aku akan membuat moment yang tak akan
terlupakan, dimana aku dan teman-temanku akan memberikan kejutan, aku ingin
sekali memberikannya boneka kelinci lucu, dan berwarna merah muda. Sepulangnya
mengantarkan Ratna, aku pun mampir sebentar ke toko boneka.
“Pak, boneka ini berapa?” tanyaku pada pedagang boneka
tersebut.
“Rp.56.000,00 dhe” sambil menghitung uang yang cara
menghitungnya meakai ludah, dan karene tampangku baby face jadi dipanggil dhe,
hahahaha.
“Engga bisa kurang Pak?” tanyaku kembali sambil menghitung
uang milikku.
“Sudah harga pas dhe, tapi Rp.50.000,00 saja deh khusus buat
adhe” bapak pedagang boneka berwarna pink merayuku, dasar bapak genit hahahaha.
“Bapak bisa saja. Yasudah Pak, ini uangnya” aku pun berhasil
membeli bonekanya, dan selanjutnya ke toko bunga. Tak perlu ku ceritakanlah
peristiwa di toko bunga itu, entar kalian tertawa lagi aku di goda bapak
penjual bunga, pokoknya aku membeli setangkai bunga mawar putih.
***
Seminggu berlalu, hari ini tanggal 7 desember, dimana
pacarku Ratna berulang tahun, hari ini aku berangkat pagi-pagi dengan memakai
seragam putih abu berjas hitam, dengan tas gendongku, headset di telingaku,
bunga mawar di tangan kananku sambil ku hirup aroma wanginya dan boneka berwarna
ping di tangan kiriku, aku berjalan menuju kelas Ratna layaknya seorang
pangeran yang akan menemui permaisurinya. Dengan sopan aku pun mengetuk pintu
kelasnya.
“Selamat pagi semua” aku pun langsung memeluk Ratna dengan
seketika.
“Eka???” Ratna heran padaku entah malu, tapi aku tak
pedulikan.
“Selamat ulang tahun ya, moga panjang umur dan sehat selalu
bersamaku” lalu aku lepaskan pelukanku dan memberikannya hadiah yang telah ku
siapkan, lalu aku pegang tangan kanannya, lalu ku cium, ini memang kurang
sopan, maka dari itu aku pun lekas keluar dari ruangan kelas Ratna, watadonya
aku.
Teman-teman sekelas Ratna terdiam dan lagi-lagi bilang “SO
SWEET”, sudah ku bilang itu tidaklah lucu.
Aku, Ratna, Fauzi, dan Dewi pun mengadakan acara pesta
kecil-kecilan untuk merayakan hari ulang tahun Ratna. Hingga kami terlarut
dalam acara tersebut, setelah ku lihat jam tanganku, ternyata sudah pukul 23.00
WIB.
Malam pun semakin larut, kami pulang, tapi hanya aku yang
berbeda arah dengan mereka. Ketika mereka naik angkutan umum tiba-tiba ada
anjing yang menggonggong, aku pun tak tahu kenapa, tapi anjing tersebut malah
mengejarku sampai ke gerbang rumahku, nafasku perlahan ku atur, jantungku sudah
tidak karuan, malamnya yang terang dengan bulan, ku malah dikejar-kejar fansku,
aku pun tertawa melihat langit malam, saat ku masuk gerbang, kakiku tersandung
batu, aku terjatuh dan tertawa sambil berharap tak ada yang melihatku, saat aku
bangun, aku malah terpeleset, sialan.
Aku pun membuka jasku dan seragam sekolahku, terlihat di
cermin ku hanya memakai boxer, dan aku tersenyum mengingatkanku pada saat
pertama kali pergi ke rumah Ratna. Aku pun tidur dengan nyenyak, entah tahu
kenapa, tiba-tiba aku mimpi buruk, Ratna selingkuh dengan temanku, Sandra (tak
harus ku ceritakan siapa dia, pokoknya berantakan).
Aku pun terbangun malam itu, ku coba tidur lagi, tapi tak
bisa, ku sms Ratna “semoga kamu tidak benar-benar selingkuh” itukan bego. Ya
Tuhan, apa kau bisa hapus sms itu, aku tak ingin dia membacanya, aku pun
membuka boxerku (upzz ga di sensor), lalu ku ambil handuk untuk mandi, saat ku
lahat jam bermerk Techno Marine ternyata baru pukul 02.06, aku pun kembali ke
tempat tidur.
***
Hari ini libur, tiba-tiba Sandra mengirim aku sebuah pesan
singkat yang bahasanya buat aku susah mengerti.
“-- Don, mW ikHutz nonTn fiLmz gaK d rMah wiLdHan???? D jaMiin
sErUU deCh wKwKwkWk” pan ribet, butuh waktu 5 menit ku membacanya, hahahaha.
“Zi, Sandra mengajakku nonton film di rumah Wildan, ikut
ya?” aku pun mengajak Fauzi bersamaku, aku lekas mandi dan menyimpan Hand Phone
ku di atas tempat tidur di bawah bantal, ribetnya hidupku.
Hand Phone ku tiba-tiba bergetar kembali dengan nada lagunya
Peterpan yang menghapus jejakmu, hafal kan? Jadi ga usah ku nyanyiin, hehe.
“Ada apa sih, kau sms lagi” itulah kata-kata yang keluar
dari mulutku tanpa aku sadar, ternyata bukan dari Sandra, melainkan dari Ratna,
ia membalas pesan singkatku semalam.
“Aku tak mungkin selingkuh, selingkuh itu menyakitkan kata
temanku juga, lebih baik ku setia padamu, I Love You ^_^” aku hanya tersenyum
membaca pesan singkat tersebut, dan aku kemudian membalasnya.
“I Love You Too ^_^” dan kemudian aku membalas pesan singkat
Sandra, aku tanya film apa, tapi dia tidak membalas pesan singkatku.
Setibanya di rumah Wildan, Sandra dkk menyiapkan
makanan-makanan yang enak, mahal pula, ternyata dia mengajak kami semua
menonton film porno (waw), ya ampun ada-ada saja, aku pun tak berniat, tapi
apalah kami, kami hanya remaja-remaja polos yang sering menghiraukan apa itu
dosa (lebay banget ternyata aku). Kami pun terlarut dengan film PORNO tersebut,
sampai-sampai kami banyak yang hilang kendali (mabuk kepayang istilahnya mah), hmmm
bicara kami jadi tidak terjaga.
“Sialan, coba aku yang jadi pemerannya, hahaha enak aku” Adi
berbicara seakan-akan ia menjadi pemeran utamanya sambil melihat lebih dekat
dan membuka resleting celananya, aku jewer saja telinganya sampai merah.
“Iya nih, tegang tegang hahahahah lihat nih !” sepatah kata
dari Sandra yang kurang sopan terdengar.
Setelah lima jam (LIMA
JAM? Lama banget ternyata) kami selesai menonton, kami pun pulang, dan aku
berjanji tak akan menonton film porno lagi, ini pelajaran bagiku. Saat ku lihat
Hand Phone ku ternyata 18 pesan belum dibaca, dan semuanya dari Ratna, ya
ampun, isinya pun sama, pasti dia kangen sama aku.
“Sedang apa Ka?” aku
merasa bersalah dan langsung menelepon dia.
“Hmmmmm, hallo !”
“Hallo juga Ka, kemana saja? Dari tadi Na sms engga di
balas-balas, sudah lupa ya sama Na?” tampak sedikit kesal.
“Bukan begitu, tadi Eka nonton film di rumahnya Wildan, Eka
gak tahu Na sms, kalau Eka tahu pasti di balas” sambil dag dig dug hatiku
karena film yang di tonton ternyata Tiiiiiiiitttttttttttttt (sensor berbunyi).
“Filmnya seru ya sampai lupa gitu sama Ratna?” tanya Ratna
penasaran.
“Hmmmmz, Eka mau minta maaf atas dua hal, yang pertama
karena gak balas sms, dannn….”
“Dan apa?” Ratna mulai penasaran lagi.
“Dan aku tadi nonton film porno (suara pelan), maaf ya”
“Kenapa harus bilang dan minta maaf sama Ratna?” dengan
seketika pun Ratna mematikan teleponnya dan sekaligus mengakhiri percakapannya,
dia mungkin ngeri mendengar hal itu, aku pun hanya tersenyum dan menyesal.
***
Hari ini hari baruku, aku masuk semester 2, tentunya dengan
pelajaran yang berbeda pula. Dan yang buat aku kaget ayahku memberikan aku
hadiah beruta sepeda motor, yaaa engga bagus-bagus amat, tapi lumayan lah buat
pamer sma anak-anak. Dari sini aku pun sering mengantarkan Ratna pulang dengan
sepeda motor baruku, tetapi pada saat hari ke-7 memiliki sepeda motor ini aku
pun pergi bermain bersama teman-temanku, sampai-sampai aku lupa untuk
mengantarkannya pulang, tiba-tiba Hand Phone ku bergetar, ku terima pesan singkat
dari Ratna.
“Ka dimana? Aku pulang naik kendaraan umum saja ya Ka?”
“Tunggu sebentar, aku segera kesana” balasku singkat karena
aku buru-buru.
Ratna disana sedang menungguku bersama Dewi, tapi tiba-tiba
di tempat aku main malah turun hujan yang sangat deras, aku pun lupa memakai
jas hujan, jaket dan helm, aku terpaksa hujan-hujanan naik motor, air hujan
menerpa wajahku, aku pun tak peduli, dalam hatiku hanya teringat Ratna.
Karena aku kedinginan, aku pun berhenti sejenak di sebuah
warung kopi di tepi jalan, tiba-tiba Ratna meneleponku, aku pun menerimanya.
“Hallo Ka, lagi apa?” tanya dia sinis.
“Lagi mnum kopi, disini hujan deras” aku pun belum sempat
menyelesaikan percakapan itu, dia malah mematikan teleponnya.
Ratna pun marah padaku, sebab aku malah enak-enakkan minum
kopi, sedangkan dia menungguku hingga berjam-jam, dia pun tak percaya hujan
deras karena di sekolah cuaca sangatlah cerah, dia berniat untuk pulang, tapi
Dewi melarangnya.
“Mungkin sebentar lagi Rat” rayu Dewi agar dia tetap
menungguku.
Aku pun melanjutkan kembali perjalananku, dan akhirnya aku
tiba juga di sekolah, sudah sangatlah sepi, hanya aku, Ratna dan Dewi, Ratna
pun kaget melihatku basah kuyup tak karuan dengan badan menggigil, seperti baru
dari kutub utara, lalu ku keluarkan Hand Phone ku, yang tak ku kira telah basah
penuh dengan air hujan. Tanpa ragu, Ratna pun memelukku dan hanya berkata
“maaf”, aku pun langsung mengantarkan Dewi dan Ratna pulang ke rumahnya
masing-masing.
Setibanya aku di rumah, ibuku langsung membuatkan air hangat
untukku mandi, lalu ibu mengajak aku makan, dan aku hanya bisa terdiam, aku
relakan Hand Phone ku yang ku beli dengan jerih payahku rusak terbengkalai
begitu saja.
***
Beberapa hari kemudian, sekolah pun libur, aku mengajak
Ratna jalan-jalan keliling kota, tempat demi tempat kami singgahi, makanan demi
makanan kami cicipi, tetapi hal yang tak diduga selalu menghampiri kami, tiga
orang pereman bermuka seram, berkulit hitam, bertubuh kekar, berkumis, dan
berambut gimbal menghampiri kami dan memalak uang kami dan ingin meperkosa
pacarku.
“Hai, mau abang perkosa neng?” sambil membawa sebotol
minuman keras.
“Apa-apaan sih bang?” tanyaku.
“Kami minta uang sekarang juga atau kamu aku hajar, hah!!!”
aku pun mulai merasa tak nyaman.
Dan aku rasa ini keterlaluan, tapi kami mencoba tidak
memberikan apa-apa, mereka pun marah dan menghajarku sampai babak belur, mukaku
sudah terlihat buruk rupa, aku sudah mencoba melawan, tapi apalah daya aku tak
kuasa, raga dan uangku jadi tumbal daripada pacarku diperkosa, sampai akhirnya
mereka pergi.
Aku pun untuk kedua kalinya tak sadarkan diri, warga sekitar
membawaku ke rumah sakit terdekat, akupun tak bisa hubungi orang tuaku karena
Hand Phone ku telah rusak, saat ku membuka mata yang aku lihat hanyalah suster yang
merawatku dan pacarku yang terlelap tidur sambil memegang tangan kananku, aku
tahu dia kelelahan gara-gara aku, tak lama kemudian dia bangun dan menangis
melihatku.
Aku pun tak mengerti, tapi Ratna telah menghubungi orang
tuaku dan mereka pun datang, disana pun aku hanya dimarahi dan dinasehati,
telingaku sudah tak aneh menerima hal itu.
“Pelajaran berharga buat kamu” itulah yang Ratna katakan
sambil tersenyum lebar menatapku yang terbaring lemah.
***
Setelah dua hari aku pun sembuh dari memarnya pukulan
abang-abang pereman mabuk, setiap kali aku selalu hampir mati, tapi itu semua
salah besar, aku harus bertahan hidup untuk bisa menikahi Ratna, jauh banget
pikiranku. Aku dan sepeda motorku kembali pergi ke sekolah, sampai-sampai suatu waktu Sandra memasukkan sesuatu ke
dalam tasku, aku pun tak menyadari itu, tapi tiba-tiba beberapa polisi masuk
dan menyuruh kami berdiri, dan satu per satu tas kami digeledah, dan pak polisi
mebawaku ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sedangkan aku sendiri pun
tak tahu apa-apa, I don’t know Pak I don’t know.
Sampai-sampai pak polisi memberi tahuku bahwa di dalam tasku
terdapat obat-obat terlarang, obat memar aku tahu pak, betadine, tapi obat
terlarang? Mana aku tahu pak, ya Tuhan cobaan apa lagi ini, orang tuaku pun
pasti tercoreng gara-gara aku, tapi orangtuaku percaya aku tak mungkin
melakukan hal seperti itu, tapi pak polisi? Tak mungkin percaya, kenal juga
engga ya pa?
Aku pun tak menyangka aku harus terkurung di sel penjara
untuk beberapa waktu (kurang lebih dua hari dua malam), Ratna pun orang yang ku
cintai, kecewa padaku, dia tak menunjukkan paras cantiknya dihadapanku
sedikitpun. Aku hanya bisa duduk sambil merangkul lututku, dan aku berharap
agar polisi segera mengungkap kebenarannya, karena ini hanya akan menyiksa
batinku, dingin tahu pak berada di penjara itu.
Satu hari kemudian orang tuaku menerima surat dari sekolah
bahwa aku telah dikeluarkan, oh my god teganya kepala sekolahku, orangtuaku pun
menangis dan berdo’a siang dan malam agar pelakunya bisa tertangkap, sampai
suatu waktu Sandra datang ke kantor polisi (mau apa Sandra? Mau jadi pahlawan
kesiangan?) terterternyataaaaaa Sandra pun mengakui perbuatannya, sulit ku
percaya, tapi katanya ia tak tega aku harus menanggung kesalahannya, aku pun
akhirnya bebas dan bisa bersekolah kembali dan pacarku tersenyum melihatku,
pacarku saja sudah tersenyum apalagi orangtuaku mamen hahahahaha.
Do’a orang tua tak akan pernah meleset, jika Tuhan
menghendaki, semua itu pasti terjadi, mulai saat ini aku akan lebih sering
mendo’akan ibuku tercinta.
***
Nah sekarang aku punya berita baik setelah tujuh hari dari
kejadian kemarin, aku masuk Tim Basket andalan sekolahku, tahu kenapa? Karena
aku ganteng, cool, pintar, cerdik dan rajin menabung, upzzzzz maksudnya karena
aku tinggi dan tentunya bisa bermain basket, sebenarnya gak terlalu jago juga,
dan lombanya kira-kira satu bulan lagi di SMA Negeri 6 Caringin Kidul, dan aku
pemilik nomor punggung 16, yap wajar saja, tanggal jadianku kan tanggal 16.
Setiap pulang sekolah, aku, Rendi, Gilang, Anton, dkk juga
bapak pelatih Mas Tanto, kami semua melakukan latihan keras untuk memenangkan
pertandingan tersebut dan semoga kami bisa menang membawa piala juga HADIAH
nya, hahaha.
“Semangat ya Ka !!” itulah yang selalu Ratna katakana
padaku, dia selalu membelikanku minuman saat aku latihan, dia selalu
menontonku. Setiap ku selesai latihan, aku selalu mengantarkannya pulang ke
rumah.
Kakaknya Ratna pun semuanya adalah pemain basket, jadi setiap
aku mengantarkan Ratna pulang, kakaknya selalu berbagi ilmu denganku,
mengajarkanku trik-trik hebat.
***
Sebulan pun berlalu terasa cepat, dimana saatnya
pertandingan basket akan sagara dimulai, kami memasuki lapangan, kami tatap
satu per satu lawannya dan permainan pun dimulai, satu hal yang terlintas di
telingaku.
“Semangat Ka !!” suara Ratna di bangku penonton sambil
tersenyum lepas dan melambaikan sapu tangan berwarna putih.
Dan setelah beberapa menit berlalu kami pun akhirnya membawa
kemenangan, tak usah ku ceritakanlah hadiahnya apa, yang jelas aku dengan baju
basketku, motorku juga pacarku, kami pergi ke suatu tempat yang berupa danau
untuk merayakan kemenanganku, disana kami bercakap-cakap halnya pasangan yang
akan segera menikah, agak kejauhan tapi kami yakin itu pasti terjadi.
“Tadi hebat Ka !!” terucap dari bibir manisnya sambil
menatapku. Aku pun tersenyum dan mencoba mencium bibirnya, tapi setelah beberapa detik, aku
pun membatalkan niatku yang dilanjutkan dengan menghela nafas sejenak.
Aku ambil krikil, lalu ku lemparkan ke tengah danau, sambil
berteriak “Aku Sayang Ratna, Dan Jangan Kau Pisahkan Kami Ya Tuhan”, Ratna pun
mencium pipiku, aku tak menyangka, wajahku bisa semerah ini dan hatiku sesenang
ini.
“Kenapa kau menciumku?” tanyaku pada Ratna sambil menggaruk
kepalaku dan memandang langit cerah.
“Karena Eka selalu buat Na bahagia” jawabnya dengan mata
berkaca-kaca.
Hmmmm lebay dah, hahaha tapi aku terharu, lalu aku peluk dia
erat-erat, tiba-tiba berbisik.
“Ka, bau badannya gak enak” aku pun segera melepaskan
pelukanku. Setelah beberapa lama aku pun mengantarkan Ratna pulang ke rumahnya
dan kami pun tiba.
“Siang tante” sapaku pada ibunya Ratna, dan kebetulan banget
ayahnya sedang bekerja.
“Eh ada nak Eka, silahkan masuk” ibunya selalu memancarkan
senyuman yang buat aku betah berada disini.
“Ibu, kaya yang jarang lihat Eka saja” Ratna pun tak mau
kalah dengan ibunya.
Setelah aku masuk, aku pun duduk di sofa berwarna coklat,
minuman dingin menjamuku, dan ibunya Ratna pun mulai berbicara memecah
keheningan.
“Gimana? Basketnya menang?” tanya ibunya Ratna padaku,
karena kebetulan Ratna pada waktu itu sedang mandi dulu.
“Alhamdulillah bu, menang” jawabku singkat.
Setelah beberapa lama kami berbincang-bincang, Ratna pun
telah selesai mandi, ia terlihat sama saja, cantik. Aku pun pamit pulang, dan
seperti biasa aku diantarkan sampai ke gerbang rumahnya.
Aku dan sepeda motorku meninggalkan halaman rumah pacarku
tercinta. Sesampainya di rumah aku pun mandi, dan kemudian makan mie ayam yang
kebetulan dagang di samping rumahku, aku sudah mengira bahwa ibu pasti sedang
bekerja dan meninggalkan pesan di pintu kulkas.
“Basketnya pasti menang, selamat ya, jangan lupa bersyukur”
aku pun tersenyum sambil mengeluarkan air mata, keluargaku banting tulang hanya
demi diriku seorang.
***
Dua hari kemudian, sepulang sekolah, aku, Ratna, Fauzi dan
Dewi mampir dulu ke kantin, rencananya Fauzi akan mentraktir kami semua, sesaat
pun kami bercanda-canda, tertawa bahagia, dan 13 menit kemudian.
“Duarrrrrrrr” bunyi ledakan salah satu tabung gas.
Kami kaget mendengar suara tersabut, tiba-tiba kebakaran pun
terjadi, tetapi pada saat kami akan menuju pintu keluar, tiba-tiba salah satu
tiang menimpa tubuhku, sedangkan teman-temanku berhasil keluar.
“Tidak, Ekaaaaaaaaaaaaa !!” itulah suara teriakan Ratna yang
masih terdengar di telingaku sambil menangis.
Semua siswa pun panik, dan melihat kebakaran tersebut, aku
yang terdiam di dalam, hanya berharap ada keajaiban datang, tak lama kemudian
aku pun pingsan karena asap yang buat aku sesak nafas. Tak lama kemudian tim
pemadam kebakaran pun datang, sekitar 19 menit, api pun berhasil dipadamkan,
aku langsung dibawa ke rumah sakit, Ratna mennghubungi orangtuaku, orangtuaku
pun panik ketakutan.
25 menit berlalu, aku telah sadarkan diri, Ratna
menceritakan semua yang terjadi, aku hanya bisa merintih kasakitan oleh luka
bakar dan luka memar pada sekujur badanku, dikepalaku tak ada sehelai rambut
pun, dokter mencukurnya karena luka dikepalaku, ternyata do’aku terkabul, aku
masih selamat walau luka dimana-mana.
Setelah lima hari berlalu, aku pulang ke rumah karena lukaku
sudah hampir sembuh.
“Bu, ibu bisa peluk aku gak?” pintaku pada ibu.
“Tentu saja nak, ibu bahkan rela menggantikan posisimu ini
nak” dengan deraian air mata ibu pun memelukku dengan erat.
Seminggu berlalu, aku telah sembuh dari lukaku, dan sebulan
kemudian rambutku mulai tumbuh kembali. Aku pun bersekolah seperti biasanya,
dan aku telah melupakan kejadian bulan lalu.
***
Bersambung, yang punya ide silahkan hubungi aku !! wkwkwkwkwk

No comments:
Post a Comment