Monday, December 17, 2012

PAMOR (Putih Abu Masa Orientasi Remajaku)


       Namaku Doni Eka Rahman, aku kelahiran 2 Oktober 1994, tinggi badanku 170 cm, berat badanku 51 kg, hobyku adalah menggambar, menulis, dan bernyanyi, hmmm dan hal yang paling aku benci adalah berenang.
Aku baru duduk di kelas X SMA Negeri 3 Harapan Jaya, hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah melewati masa-masa MOPD yang menyeramkan dicaci dan dimaki oleh para seniorku, dan baju putih abulah yang kini aku kenakan. Aku pamit pada kedua orangtuaku dan dengan penuh harapan aku melangkah pergi ke sekolah. Di sekolah, aku masuk kelas X-D, di kelas ini tidak ada yang ku kenali seorang pun, satu hal lagi, rumahku jaraknya cukup jauh dengan sekolah, tapi hari-hariku pergi ke sekolah hanya dilalui dengan jalan kaki.
Hari ini ku injakkan kakiku di kelas baruku, aku pun bingung memilih teman sebangku, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dengan tiba-tiba, tak lama kemudian orang yang menepuk pundakku itu berbicara.
“Hai, namaku Fauzi Hermawan, panggil saja Fauzi” sapa seseorang yang menepuk pundakku tersebut, aku pun memutar arah pandangku dan dia melanjutkan dengan ajakan jabatan tangan.
Aku pun menjabat tangannya sambil menunjukkan senyuman yang lebar.
“Hai, aku Doni Eka Rahman, panggil saja Eka” jawabku sambil memegang jenggotku yang baru tumbuh dengan tangan kiriku.
Aku pun menatap dia dari atas sampai bawah, ternyata dia seorang laki-laki berhidung mancung dan kulit putih dingin, tapi ku rasa dia bukan “Vampire”.
“Boleh jadi teman sebangku?” tanya laki-laki berhidung mancung itu dengan ramah dan nada rendah.
“Hmmmmm, boleh” jawabku spontan dan masih dengan senyuman lebar.
“Anak mana?” tanyanya lagi untuk basa-basi, aku pikir sih begitu.
“Lumayan jauh dari daerah sini” dengan singkat dan tak nyambung itulah jawabanku.
Dia pun malah tertawa. Menurutku, Fauzi adalah tipe orang yang ramah yang bisa bergaul dengan siapa saja. Aku dan Fauzi duduk paling depan dekat meja guru, dan di belakang tempat dudukku ada dua orang gadis cantik, panggilah mereka Lita dan Dara.
Tiba-tiba bel sekolah pun terdengar, semua siswa dan guru pun pergi ke lapang untuk melaksanakan upacara bendera pertama tahun ajaran baru.
Semua siswa kelas X dengan rapi melaksanakan upacara, berbeda dengan kakak-kakak senior yang berisik. Dan bapak kepala sekolah berpidato dengan pidatonya yang panjang lebar.
Upacara pun selesai, aku berkenalan dengan teman-teman sekelasku yang lainnya, dan pelajaran bla bla bla yahhh buatku stress saja, setelah waktunya pulang, aku dan Fauzi pulang bersama, tapi, tiba-tiba ada seorang perempuan cantik berambut lurus panjang hitam lebat, berkulit putih, tinggi, dan berhidung mancung menghampiri langkah kami, dia tersenyum, seolah-olah dia hanya tersenyum untukku, aku merasakan rasa yang beda dari biasanya.
Setelah sampai ke rumah aku mencium ibuku, lalu kami makan siang. Ayah dan kakakku sedang bekerja, dan sangat jarang berada di rumah.
***
Keesokan harinya aku pun ingin mencari tahu siapa perempuan cantik yang ku lihat kemarin, tetapi dengan tidak sengaja pada saat waktu istirahat aku lihat lagi wajah perempuan cantik tersebut di kursi kantin sekolah yang sedang berbincang dengan teman sebangkuku, Fauzi. Aku pun merasa heran dan langsung mendekati mereka dengan wajah ceriaku.
“Boleh gabung?” pintaku pada mereka berdua.
“Tentu saja” jawab Fauzi ramah.
“Hai, Ratna Nanda Putri” itulah nama lengkapnya dan dia mengajakku bekenalan dengan memberitahukan nama aslinya sambil menunjukkan senyuman manisnya.
Aku pun terdiam beberapa detik sambil menatap wajahnya.
“Kenalkan aku Eka, lengkapnya Doni Eka Rahman. Ngomong-ngomong kelas berapa? Temannya Fauzi ya? Kamu…. Cantik” sapaku sambil menjabat tangannya dengan waktu yang cukup lama, dan mungkin mataku tak berkedip sedikitpun.
Ratna hanya tersenyum, dan menganggukan kepalanya sambil mengucapkan kata “Thanks”.
“Dia sahabatku dari SMP, dia kelas X-F” sela Fauzi dengan cepat sambil mengusap wajahku dengan tangan kirinya.
“Bukan nanya sama kamu kali Zi” sindirku sambil tersenyum malu.
Dari sanalah aku kenal dia dan kami jadi semakin dekat satu sama lain, aku pun baru sadar kenapa saat pertama kali melihat dia, dia tersenyum, itu karena dia kenal dengan Fauzi, aku pun merasa malu, tapi aku cuek saja karena tak mungkin ada yang tahu hal itu.
Saat malam tiba aku buka akun facebookku di komputer lamaku, diam-diam aku mencari nama Ratna Nanda Putri, saat berhasil menemukannya, senyuman manis terpancar diwajahku, aku lihat status dia, ternyata dia belum punya pacar, lalu aku menambahkan dia sebagai teman, aku tersenyum membaca catatan-catatannya, itulah mungkin awal ku jatuh cinta pada pandangan pertama. Foto profilnya selalu menjadi inti pandanganku saat itu, sampai-sampai aku pun menyimpan foto-fotonya di komputerku. Setelah beberapa menit kemudian ada satu pemberitahuan di akun facebookku, ternyata dia menirama permintaan pertemananku.
“Terimakasih atas konfirmasinya” itulah yang ku  tulis di dinding facebooknya.
“Sama-sama, Eka ya?” itulah pertanyaan balik yang dia tulis di dindingku.
“Iya, hehehehe” balasku sambil garuk-garuk kepala dan tersenyum sendiri.
Pessssshhhhhhhhh tiba-tiba listrik padam. Akupun menunggu listriknya menyala, ternyata pukul 23.00 WIB baru menyala, dan dia pun telah offline. Akhirnya aku tulis pesan dinding terakhir sebelum aku tidur dan berharap bisa memimpikan dia.
“Met bobo ya, moga mimpi indah”
***
Dua minggu berlalu, aku telah mengenal Ratna lebih dekat, aku putuskan untuk menyatakan perasaanku pada dia saat pulang sekolah nanti, hatiku begitu gembira, padahal dia belum tentu mau menerimaku.
Bel jam pelajaran selesai pun berbunyi.
“Kamu duluan aja ya Ka (diambil dari nama tengahku, Eka), aku mau ke perpustakaan dulu” saut Fauzi dengan menepuk-nepuk dadaku.
Aku merasa heran dan aku pun lari keluar untuk menunggu Ratna lewat didepan kelasku, dan tidak lama kemudian dia pun melangkah menghampiriku seperti bidadari turun dari kahyangan, hahahhaha.
“Pulang bareng yuk Ka! Fauzi?” ajakkan dan pertanyaan yang membuat aku bingung.
“Hmmmm, ayo. Kebetulan, Fauzi tadi ke perpustakaan dulu, katanya duluan saja” jawabku dengan detak jantung yang cukup kencang.
Saat kami sudah melangkah cukup jauh dari gerbang sekolah terucap kalimat dari mulutku.
“Na, hmmmm boleh ga (menghela nafas) mmm aku bicara sesuatu?” dengan paras sedikit gugup.
“Apa? Boleh ko boleh, kenapa? Ada yang penting? Apa ada berita baik?” pertanyaan penasaran pun keluar dari mulut Ratna.
“Ak (menghela nafas) ku suka lo samaaaaaaa kamu” sambil memalingkan muka merahku ke langit yang biru, lalu ku coba menendang beberapa krikil di jalan.
“Ouh mau jadi pacar aku? Boleh, kok bisa suka sama aku?” dengan gampangnya dia jawab seperti itu, oh my god, ga aku sangka, aku langsung garuk kepalaku sekencang-kencangnya.
“Awwwwww !! huhhhhh, Beneran? Emang kamu belum punya pacar?” tanya aku kembali sambil mengusap dada.
“Belum” dengan muka polos dia jawab seperti itu.
“Oh, hmmm aku suka sama kamu karena kamu perhatian sama aku, minggu depan aku main ya ke rumah kamu? Terus anterin kamu setiap hari?” sambil senyum-senyum tersipu malu.
“Ouh gitu. Boleh, hari ini juga boleh ko” dengan ringannya dia jawab seperti itu.
“Bukannya gak mau, tapi hari ini aku janji sama ibu untuk bantu belanja, sebenarnya sedikit belum siap sihh hehe” jawabku sambil memasukan tanganku ke saku celana.
“Ouh, iya sampai jumpa besok pacarku” dengan senyuman manis dia melambaikan tangannya dan dia pun naik kendaraan umum, karena dia terus menoleh padaku, kepalanya kejedot pintu mobil.
Akupun hanya bisa bilang “yes”. Rasanya tahu si dia suka sama aku tuh, kaya ngebelah langit berlapis-lapis, naik paus akrobatik menuju rasi bintang paliiiiiiiiiiiing tinggi, karena hidup itu penuh rasa (iklan).
***
Keesokan hari pun tiba, dan langsung ada yang menyapaku dengan nada tinggi,
“Ka, kamu pacaran ya sama Ratna?” tanya Fauzi.
“Yap. Kakakkakamu tahu dari mana?” tanya aku balik dengan nada gagap.
“Ya dari Ratna lah, semalam dia sms-an sama aku, ga ngasih tahu aku dikau, gimana sih, tapi aku sudah mengira hal itu” jawab dia dengan nada ringan sambil tertawa kecil. Aku pun terdiam sebentar.
“Ouhhhh begitu, yaaaaaaa maaf, hehehehehe” muka ku pun merah kembali.
“Minggu depan kamu mau main ke rumah Ratna? Ga akan kapok? Aku ga ikut ya” lagi-lagi dia menyela.
“Iya, hmmmm siapa juga yang mau ajakin dirimu” aku pun tak bertanya-tanya tentang kakaknya Ratna.
Dengan santai aku masuk kelas dan menyimpan tasku di atas meja. Aku lari-lari di tempat, maksudnya sih aku senang, tapi semua teman sekelasku malah melihatku, aku pun malu dan lari keluar kelas.
***
Minggu berikutnya yang aku tunggu-tunggu pun tiba, saat pulang sekolah aku langsung pergi menemui Ratna dan tanpa basa-basi kami langsung pergi ke rumah dia, dan 20 menit kemudian tanpa disadari kami pun telah sampai dan langsung disambut oleh ke lima kakaknya, wowww mengejutkan, tiba-tiba satu persatu dari mereka memperkenalkan diri.
Rezza Pratama, Raffa Dwi Putra, Rakka Tricahya, Rizzal Fauzan, dan Reva Ramadhan, kira-kira seperti itulah urutan mereka, sampai teringat-ingat di kepalaku, tampang mereka keren-keren ala boy band korea gitu, badannya pun kekar-kekar, pantas saja adik mereka cantik jelita laksana putri bidadari.
“Doni kak, Doni Eka Rahman, panggil aja Eka” dengan menghela nafas aku jabat tangan mereka satu per satu.
“Pacarnya Ratna?” tanya salah seorang kakaknya yang bernama Raffa.
“Wahhh, adik kita sudah mulai berani ternyata, hhahhahhahha membawa laki-laki ke rumah” kata kakaknya yang satu lagi, kalau tidak salah namanya Rizzal.
“Iya kak” aku jawab pertanyaan kak Raffa dengan gugup campur malu.
“Ka, ayo masuk, aku kenalin sama orang tuaku” ajak Ratna padaku, dan aku pun mulai menjauh dari kakak-kakanya Ratna.
Ka Reva pun memperlihatkan jari tengahnya padaku, aku pun berjalan masuk ke pintu rumahnya, dan ternyata rumahnya gedeeeee banget, kaya istana lah pokoknya.
“Ibu, ini ku kenalin samaaaaaaaaaaaa,” diapun berbisik pada orang tuanya “Pacar pertamaku” dan Ratna mencium kedua orangtuanya, aku pun menyalami mereka sambil menyapa.
“Siang om, tante, saya Doni Eka Rahman, panggil saja Eka, hmmm pacarnya Ratna” detak jantungku semakin kencang.
“Iya, kemarin dia cerita banyak tentang kamu” Ibunya pun ramah.
“Jadi malu tante, oh iya om tante gimana kabarnya? Maaf Eka gak bisa bawa apa-apa” basi-basi pun aku mulai.
“Baik. Iya ga apa-apa nak Eka, mau minum apa? Biar Ratna ambilkan”
“Ga usah repot-repot tante” sambil berharap diberi jus mangga.
Tiba-tiba Ratna datang dengan membawa nampan, aku pun tak tahu dia bawakan apa untukku.
“Ini, jus jeruk, silakan diminum, maaf kalau gak suka, habis tadi gak jawab” kata Ratna dengan lembut.
Dan kebetulan banget aku memang gak suka sama yang namanya jus jeruk, oh my god, dengan perlahan aku pun minum jus itu, huft, aku menghela nafasku.
Setelah lama kami berbincang-bincang, akhirnya aku putuskan untuk pamit karena waktu mulai sore, Ratna pun mengantarkanku sampai kegerbang depan. Dia lambaikan tangan padaku dan berkata “hati-hati ya sayang” oh betapa senangnya hatiku saat itu, tapiiiiiiiii setelah tidak jauh ku melangkah, kelima kakaknya Ratna pun menghentikan langkahku, dan salah seorang dari mereka yaitu kak Rakka berbicara padaku sambil memegang kerah seragamku.
“Buka bajumu sekarang juga ! Atau kami hajar kau sampai babak belur” nada tinggi dan gagah keluar.
“Buat apa kak?” dengan ketakutan aku pun akhirnya mengalah. Tapi tiba-tiba terhentak lagi dari mulut kak Reva.
“Celananya kenapa ga dibuka? kamu masih belum mengerti juga ya rupanya?” dengan nada sok jagoan.
“I, i, iya kak, tunggu sebentar, tapi kan kak” nada memperihatinkan keluar dari mulutku, oh sungguh malang nasibku.
“Oh, jadi ngelawan nih ceritanya?” tanya kak Rezza dengan sinis.
“Bu, bukan begitu kak, iya baiklah kak kalau memang ini yang kakak mau” aku pun dengan perlahan membuka celanaku. Aku pun akhirnya disuruh pergi, dan mereka pun tertawa bahagia, lucu kali ya melihat aku telanjang menderita.
“Jaga adikku baik-baik, jangan sampai kau mengecewakannya” kakaknya yang bernama Rizzal Fauzan berteriak memberi pesan padaku sambil melambaikan tangannya. Aku hanya tertunduk, tangan dimasukkan kedalam saku boxerku, sambil menendang krikil di jalanan.
Sialnya, semua uangku ada di kantong celana, dengan boxer ini pun aku melangkah malu, terpaksa aku harus berjalan kaki sampai rumah, dan berpikiran mustahil bahwa ku bisa naik kendaraan umum gratis dengan boxerku ini, aku pun tertawa disana. Tiba-tiba cuaca mendung, hujan pun turun, derasnya gak nahan, tahu yang namanya kedinginan? Ouhhhhhh dinginnnn banget, tapi tak apalah, mungkin cinta butuh perjuangan, itulah yang ku bisikkan di benak hatiku.
Setelah sampai ke rumah, dengan tubuh yang menggigil kedinginan dan basah kuyup, aku sudah tahu bahwa ibu dan kakakku Dian tidak ada di rumah, mereka pasti sedang sibuk, apalagi ayahku yang jarang sekali ada di rumah. Ku duduk dan merangkul lututku di teras rumah dengan menarik nafas, menunduk dan memejamkan mataku. Kemudian setelah agak lama hujan reda dan ku pandang langit sore, selalu terbayang nama Ratna.
Setelah aku membuka kunci pintu, aku mandi, aku lekas tidur dan berharap tidak akan terkena flu. Dan untuk sekian kalinya aku berharap agar memimpikan Ratna.
***
Saat aku terbangun dari tidurku, ku lihat jam, menunjukkan pukul 06.30, aku pun baru ingat, seragamku yang satu lagi basah karena kemarin kehujanan diluar, ya ampun sialnya aku, aku pun setrika dulu sampai benar-benar kering, dengan ditemani flu gara-gara kehujanan kemarin sore, aku pun berbicara sendiri pada barang-barang di sekelilingku.
“Hahhhhh (menghela nafas), jam, jam, kenapa kau tak bangunkan tidurku (padahal aku telah dibangunkan, tapi aku aku tak menghiraukannya), tahukah kamu setrika, aku itu bangun kesiangan, kenapa kau tak menyetrika bajuku sendiri, sudah tahu bajuku basah, kalian juga piring, sendok dan kompor, tahu kan kalau aku ini belum sarapan? Harusnya kalian mengerti situasiku, aku itu kemarin sialnya minta ampun, lain kali kalian harus masak sendiri, kalian sudah dewasa. (satu menit kemudian) Pintu, aku berangkat dulu ya, semoga saja aku gak kesiangan, ingat jaga rumah, jangan bukakan pintu untuk orang asing yang tidak kamu kenal” aku pun lari tak pedulikan apapun sampai lupa memakai sepatu.
Setelah tiba di sekolah, apa? Pintu gerbang sudah ditutup. Ouh jangan sampai, aku pun terpaksa kena hukuman, dengan perut lapar aku lari-lari keliling lapangan dan dilanjutkan dengan hormat bendera sampai jam istirahat. Dan tidak ku sangka, Ratna membawakanku makanan dan juga seragamku, katanya kakaknya hanya mengujiku saja (itukan gak lucu), dia meminta maaf, dan aku hanya bisa tersenyum bahagia.
Tahukah kalian saat aku sedang berdua di lapang? Semua siswa menontonku, dan berteriak “OHH SO SWEET” , itukan gak lucu juga. Dan Bapak Drs.Ganjar Sastrawan masih ku kenang namanya sampai sekarang, kenapa? Karena dia yang menghukumku.
Gara-gara hukuman itu semua badanku sakit, kakiku terkilir dan tanganku terasa patah. Ratna memijatku di tengah lapang sambil memegang jidatku, mungkin mukaku sudah terlalu pucat ya? Dan ia pun berbicara padaku.
“Maafkan aku, itu semua gara-gara aku” dengan muka layu (bunga kali).
“Engga kok, akunya saja yang lemah” kekesalanku tak ku tunjukkan sedikitpun, karena aku tak mau buat wajahnya semakin layu.
Ya ampun, lama-lama cinta bisa buat aku gila, harus berapa lama lagi ujian cinta ini berlangsung? Akupun menghela nafas kembali lalu meluruskan kakiku lalu ku baringkan tubuhku, kemudian aku bangun dan pergi ke UKS.
***
Hari-hari sial kemarin pun sudah berlalu, hari ini ku antarkan pacarku pulang sampai ke rumahnya, aku harap tak ada hal aneh lagi menghampiriku, dan sesampainya aku pulang pun tak ada kejadian yang aneh, sampai akhirnya kendaraan umum yang ku naiki kecelakaan, kendaraannya menabrak pohon jati gedeeee yang tingginya 9 meter yang daunnya pun telah berguguran dan jatuh ke jurang yang sangat dalam, kepalaku membentur batu dan mengeluarkan darah, saat itu pun aku koma dan tak sadarkan diri.
Aku dirawat di RS Sakti Prakarsa (tentunya rumah sakit terdekat), dan aku terluka parah, darahku tak henti-hentinya keluar dari kepalaku. Saat aku terbaring, Ratna dan keluarganya menjengukku, Ratna menangis dan memegang tanganku, dan berdo’a agar aku cepat sembuh, dan dia pun rela menggantikan posisiku, ayahku pun tidak tidur semalaman, dan aku tahu bahwa semua orang menyayangiku, mereka tak mau aku kenapa-napa. Setelah aku sadar, ibu menceritakannya padaku, dan aku memeluk ibuku sambil menangis dan mengatakan aku sayang ibu. Dan Fauzi mengintip di balik pintu sambil memvideo aku menangis, kan bodoh!! Temanku masih bisa bercanda disaat ku terluka. Mungkin video itu sudah tersebar luas.
***
Setelah seminggu aku dirawat di rumah sakit, dokter pun mengizinkanku pulang, untuk beberapa hari aku tidak sekolah, guru-guru dan teman-temanku pun menjengukku, apalagi pacarku, dia selalu membawakanku makanan buatannya sendiri.
“Cepet sembuh ya sayang, Ratna sayang Eka.” itulah kata-kata bijak pacarku yang sekaligus menghibur dukaku.
“Iya sayang, Eka sayang Ratna.” aku pun membalasnya dengan memegang kedua tangannya lalu menciumnya, dan dilanjutkan dengan membelai rambut panjangnya.
Aku sadar kerjaanku hanya terbaring di tempat tidur, tapi apalah daya, sakit yang lumayan, singgah pada ragaku. Setiap hari memakan bubur, perban-perban membalut tubuh dan kepalaku, juga kakiku yang sulit tuk digerakkan, tapi aku bahagia, karena aku beruntung mempunyai orang-orang yang menyayangiku.
***
Beberapa minggu pun berlalu, aku sembuh dari sakitku, tapi bekas luka tersebut masih menempel di badanku, aku pun bersekolah seperti biasanya, dan Fauzi pun diam-diam telah mepunyai pacar, panggil saja Dewi, dari kelas X-A, dan semenjak itu kami pun selalu berkumpul ber-empat. Tapi bukan berarti kami melupakan sahabat kami.
Dan minggu depan adalah ulang tahun pacarku, tepatnya tanggal 7 desember. Mungkin disinilah aku akan membuat moment yang tak akan terlupakan, dimana aku dan teman-temanku akan memberikan kejutan, aku ingin sekali memberikannya boneka kelinci lucu, dan berwarna merah muda. Sepulangnya mengantarkan Ratna, aku pun mampir sebentar ke toko boneka.
“Pak, boneka ini berapa?” tanyaku pada pedagang boneka tersebut.
“Rp.56.000,00 dhe” sambil menghitung uang yang cara menghitungnya meakai ludah, dan karene tampangku baby face jadi dipanggil dhe, hahahaha.
“Engga bisa kurang Pak?” tanyaku kembali sambil menghitung uang milikku.
“Sudah harga pas dhe, tapi Rp.50.000,00 saja deh khusus buat adhe” bapak pedagang boneka berwarna pink merayuku, dasar bapak genit hahahaha.
“Bapak bisa saja. Yasudah Pak, ini uangnya” aku pun berhasil membeli bonekanya, dan selanjutnya ke toko bunga. Tak perlu ku ceritakanlah peristiwa di toko bunga itu, entar kalian tertawa lagi aku di goda bapak penjual bunga, pokoknya aku membeli setangkai bunga mawar putih.
***
Seminggu berlalu, hari ini tanggal 7 desember, dimana pacarku Ratna berulang tahun, hari ini aku berangkat pagi-pagi dengan memakai seragam putih abu berjas hitam, dengan tas gendongku, headset di telingaku, bunga mawar di tangan kananku sambil ku hirup aroma wanginya dan boneka berwarna ping di tangan kiriku, aku berjalan menuju kelas Ratna layaknya seorang pangeran yang akan menemui permaisurinya. Dengan sopan aku pun mengetuk pintu kelasnya.
“Selamat pagi semua” aku pun langsung memeluk Ratna dengan seketika.
“Eka???” Ratna heran padaku entah malu, tapi aku tak pedulikan.
“Selamat ulang tahun ya, moga panjang umur dan sehat selalu bersamaku” lalu aku lepaskan pelukanku dan memberikannya hadiah yang telah ku siapkan, lalu aku pegang tangan kanannya, lalu ku cium, ini memang kurang sopan, maka dari itu aku pun lekas keluar dari ruangan kelas Ratna, watadonya aku.
Teman-teman sekelas Ratna terdiam dan lagi-lagi bilang “SO SWEET”, sudah ku bilang itu tidaklah lucu.
Aku, Ratna, Fauzi, dan Dewi pun mengadakan acara pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari ulang tahun Ratna. Hingga kami terlarut dalam acara tersebut, setelah ku lihat jam tanganku, ternyata sudah pukul 23.00 WIB.
Malam pun semakin larut, kami pulang, tapi hanya aku yang berbeda arah dengan mereka. Ketika mereka naik angkutan umum tiba-tiba ada anjing yang menggonggong, aku pun tak tahu kenapa, tapi anjing tersebut malah mengejarku sampai ke gerbang rumahku, nafasku perlahan ku atur, jantungku sudah tidak karuan, malamnya yang terang dengan bulan, ku malah dikejar-kejar fansku, aku pun tertawa melihat langit malam, saat ku masuk gerbang, kakiku tersandung batu, aku terjatuh dan tertawa sambil berharap tak ada yang melihatku, saat aku bangun, aku malah terpeleset, sialan.
Aku pun membuka jasku dan seragam sekolahku, terlihat di cermin ku hanya memakai boxer, dan aku tersenyum mengingatkanku pada saat pertama kali pergi ke rumah Ratna. Aku pun tidur dengan nyenyak, entah tahu kenapa, tiba-tiba aku mimpi buruk, Ratna selingkuh dengan temanku, Sandra (tak harus ku ceritakan siapa dia, pokoknya berantakan).
Aku pun terbangun malam itu, ku coba tidur lagi, tapi tak bisa, ku sms Ratna “semoga kamu tidak benar-benar selingkuh” itukan bego. Ya Tuhan, apa kau bisa hapus sms itu, aku tak ingin dia membacanya, aku pun membuka boxerku (upzz ga di sensor), lalu ku ambil handuk untuk mandi, saat ku lahat jam bermerk Techno Marine ternyata baru pukul 02.06, aku pun kembali ke tempat tidur.
***
Hari ini libur, tiba-tiba Sandra mengirim aku sebuah pesan singkat yang bahasanya buat aku susah mengerti.
“-- Don, mW ikHutz nonTn fiLmz gaK d rMah wiLdHan???? D jaMiin sErUU deCh wKwKwkWk” pan ribet, butuh waktu 5 menit ku membacanya, hahahaha.
“Zi, Sandra mengajakku nonton film di rumah Wildan, ikut ya?” aku pun mengajak Fauzi bersamaku, aku lekas mandi dan menyimpan Hand Phone ku di atas tempat tidur di bawah bantal, ribetnya hidupku.
Hand Phone ku tiba-tiba bergetar kembali dengan nada lagunya Peterpan yang menghapus jejakmu, hafal kan? Jadi ga usah ku nyanyiin, hehe.
“Ada apa sih, kau sms lagi” itulah kata-kata yang keluar dari mulutku tanpa aku sadar, ternyata bukan dari Sandra, melainkan dari Ratna, ia membalas pesan singkatku semalam.
“Aku tak mungkin selingkuh, selingkuh itu menyakitkan kata temanku juga, lebih baik ku setia padamu, I Love You ^_^” aku hanya tersenyum membaca pesan singkat tersebut, dan aku kemudian membalasnya.
“I Love You Too ^_^” dan kemudian aku membalas pesan singkat Sandra, aku tanya film apa, tapi dia tidak membalas pesan singkatku.
Setibanya di rumah Wildan, Sandra dkk menyiapkan makanan-makanan yang enak, mahal pula, ternyata dia mengajak kami semua menonton film porno (waw), ya ampun ada-ada saja, aku pun tak berniat, tapi apalah kami, kami hanya remaja-remaja polos yang sering menghiraukan apa itu dosa (lebay banget ternyata aku). Kami pun terlarut dengan film PORNO tersebut, sampai-sampai kami banyak yang hilang kendali (mabuk kepayang istilahnya mah), hmmm bicara kami jadi tidak terjaga.
“Sialan, coba aku yang jadi pemerannya, hahaha enak aku” Adi berbicara seakan-akan ia menjadi pemeran utamanya sambil melihat lebih dekat dan membuka resleting celananya, aku jewer saja telinganya sampai merah.
“Iya nih, tegang tegang hahahahah lihat nih !” sepatah kata dari Sandra yang kurang sopan terdengar.
Setelah lima jam  (LIMA JAM? Lama banget ternyata) kami selesai menonton, kami pun pulang, dan aku berjanji tak akan menonton film porno lagi, ini pelajaran bagiku. Saat ku lihat Hand Phone ku ternyata 18 pesan belum dibaca, dan semuanya dari Ratna, ya ampun, isinya pun sama, pasti dia kangen sama aku.
“Sedang apa Ka?”  aku merasa bersalah dan langsung menelepon dia.
“Hmmmmm, hallo !”
“Hallo juga Ka, kemana saja? Dari tadi Na sms engga di balas-balas, sudah lupa ya sama Na?” tampak sedikit kesal.
“Bukan begitu, tadi Eka nonton film di rumahnya Wildan, Eka gak tahu Na sms, kalau Eka tahu pasti di balas” sambil dag dig dug hatiku karena film yang di tonton ternyata Tiiiiiiiitttttttttttttt (sensor berbunyi).
“Filmnya seru ya sampai lupa gitu sama Ratna?” tanya Ratna penasaran.
“Hmmmmz, Eka mau minta maaf atas dua hal, yang pertama karena gak balas sms, dannn….”
“Dan apa?” Ratna mulai penasaran lagi.
“Dan aku tadi nonton film porno (suara pelan), maaf ya”
“Kenapa harus bilang dan minta maaf sama Ratna?” dengan seketika pun Ratna mematikan teleponnya dan sekaligus mengakhiri percakapannya, dia mungkin ngeri mendengar hal itu, aku pun hanya tersenyum dan menyesal.
***
Hari ini hari baruku, aku masuk semester 2, tentunya dengan pelajaran yang berbeda pula. Dan yang buat aku kaget ayahku memberikan aku hadiah beruta sepeda motor, yaaa engga bagus-bagus amat, tapi lumayan lah buat pamer sma anak-anak. Dari sini aku pun sering mengantarkan Ratna pulang dengan sepeda motor baruku, tetapi pada saat hari ke-7 memiliki sepeda motor ini aku pun pergi bermain bersama teman-temanku, sampai-sampai aku lupa untuk mengantarkannya pulang, tiba-tiba Hand Phone ku bergetar, ku terima pesan singkat dari Ratna.
“Ka dimana? Aku pulang naik kendaraan umum saja ya Ka?”
“Tunggu sebentar, aku segera kesana” balasku singkat karena aku buru-buru.
Ratna disana sedang menungguku bersama Dewi, tapi tiba-tiba di tempat aku main malah turun hujan yang sangat deras, aku pun lupa memakai jas hujan, jaket dan helm, aku terpaksa hujan-hujanan naik motor, air hujan menerpa wajahku, aku pun tak peduli, dalam hatiku hanya teringat Ratna.
Karena aku kedinginan, aku pun berhenti sejenak di sebuah warung kopi di tepi jalan, tiba-tiba Ratna meneleponku, aku pun menerimanya.
“Hallo Ka, lagi apa?” tanya dia sinis.
“Lagi mnum kopi, disini hujan deras” aku pun belum sempat menyelesaikan percakapan itu, dia malah mematikan teleponnya.
Ratna pun marah padaku, sebab aku malah enak-enakkan minum kopi, sedangkan dia menungguku hingga berjam-jam, dia pun tak percaya hujan deras karena di sekolah cuaca sangatlah cerah, dia berniat untuk pulang, tapi Dewi melarangnya.
“Mungkin sebentar lagi Rat” rayu Dewi agar dia tetap menungguku.
Aku pun melanjutkan kembali perjalananku, dan akhirnya aku tiba juga di sekolah, sudah sangatlah sepi, hanya aku, Ratna dan Dewi, Ratna pun kaget melihatku basah kuyup tak karuan dengan badan menggigil, seperti baru dari kutub utara, lalu ku keluarkan Hand Phone ku, yang tak ku kira telah basah penuh dengan air hujan. Tanpa ragu, Ratna pun memelukku dan hanya berkata “maaf”, aku pun langsung mengantarkan Dewi dan Ratna pulang ke rumahnya masing-masing.
Setibanya aku di rumah, ibuku langsung membuatkan air hangat untukku mandi, lalu ibu mengajak aku makan, dan aku hanya bisa terdiam, aku relakan Hand Phone ku yang ku beli dengan jerih payahku rusak terbengkalai begitu saja.
***
Beberapa hari kemudian, sekolah pun libur, aku mengajak Ratna jalan-jalan keliling kota, tempat demi tempat kami singgahi, makanan demi makanan kami cicipi, tetapi hal yang tak diduga selalu menghampiri kami, tiga orang pereman bermuka seram, berkulit hitam, bertubuh kekar, berkumis, dan berambut gimbal menghampiri kami dan memalak uang kami dan ingin meperkosa pacarku.
“Hai, mau abang perkosa neng?” sambil membawa sebotol minuman keras.
“Apa-apaan sih bang?” tanyaku.
“Kami minta uang sekarang juga atau kamu aku hajar, hah!!!” aku pun mulai merasa tak nyaman.
Dan aku rasa ini keterlaluan, tapi kami mencoba tidak memberikan apa-apa, mereka pun marah dan menghajarku sampai babak belur, mukaku sudah terlihat buruk rupa, aku sudah mencoba melawan, tapi apalah daya aku tak kuasa, raga dan uangku jadi tumbal daripada pacarku diperkosa, sampai akhirnya mereka pergi.
Aku pun untuk kedua kalinya tak sadarkan diri, warga sekitar membawaku ke rumah sakit terdekat, akupun tak bisa hubungi orang tuaku karena Hand Phone ku telah rusak, saat ku membuka mata yang aku lihat hanyalah suster yang merawatku dan pacarku yang terlelap tidur sambil memegang tangan kananku, aku tahu dia kelelahan gara-gara aku, tak lama kemudian dia bangun dan menangis melihatku.
Aku pun tak mengerti, tapi Ratna telah menghubungi orang tuaku dan mereka pun datang, disana pun aku hanya dimarahi dan dinasehati, telingaku sudah tak aneh menerima hal itu.
“Pelajaran berharga buat kamu” itulah yang Ratna katakan sambil tersenyum lebar menatapku yang terbaring lemah.
***
Setelah dua hari aku pun sembuh dari memarnya pukulan abang-abang pereman mabuk, setiap kali aku selalu hampir mati, tapi itu semua salah besar, aku harus bertahan hidup untuk bisa menikahi Ratna, jauh banget pikiranku. Aku dan sepeda motorku kembali pergi ke sekolah, sampai-sampai  suatu waktu Sandra memasukkan sesuatu ke dalam tasku, aku pun tak menyadari itu, tapi tiba-tiba beberapa polisi masuk dan menyuruh kami berdiri, dan satu per satu tas kami digeledah, dan pak polisi mebawaku ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sedangkan aku sendiri pun tak tahu apa-apa, I don’t know Pak I don’t know.
Sampai-sampai pak polisi memberi tahuku bahwa di dalam tasku terdapat obat-obat terlarang, obat memar aku tahu pak, betadine, tapi obat terlarang? Mana aku tahu pak, ya Tuhan cobaan apa lagi ini, orang tuaku pun pasti tercoreng gara-gara aku, tapi orangtuaku percaya aku tak mungkin melakukan hal seperti itu, tapi pak polisi? Tak mungkin percaya, kenal juga engga ya pa?
Aku pun tak menyangka aku harus terkurung di sel penjara untuk beberapa waktu (kurang lebih dua hari dua malam), Ratna pun orang yang ku cintai, kecewa padaku, dia tak menunjukkan paras cantiknya dihadapanku sedikitpun. Aku hanya bisa duduk sambil merangkul lututku, dan aku berharap agar polisi segera mengungkap kebenarannya, karena ini hanya akan menyiksa batinku, dingin tahu pak berada di penjara itu.
Satu hari kemudian orang tuaku menerima surat dari sekolah bahwa aku telah dikeluarkan, oh my god teganya kepala sekolahku, orangtuaku pun menangis dan berdo’a siang dan malam agar pelakunya bisa tertangkap, sampai suatu waktu Sandra datang ke kantor polisi (mau apa Sandra? Mau jadi pahlawan kesiangan?) terterternyataaaaaa Sandra pun mengakui perbuatannya, sulit ku percaya, tapi katanya ia tak tega aku harus menanggung kesalahannya, aku pun akhirnya bebas dan bisa bersekolah kembali dan pacarku tersenyum melihatku, pacarku saja sudah tersenyum apalagi orangtuaku mamen hahahahaha.
Do’a orang tua tak akan pernah meleset, jika Tuhan menghendaki, semua itu pasti terjadi, mulai saat ini aku akan lebih sering mendo’akan ibuku tercinta.
***
Nah sekarang aku punya berita baik setelah tujuh hari dari kejadian kemarin, aku masuk Tim Basket andalan sekolahku, tahu kenapa? Karena aku ganteng, cool, pintar, cerdik dan rajin menabung, upzzzzz maksudnya karena aku tinggi dan tentunya bisa bermain basket, sebenarnya gak terlalu jago juga, dan lombanya kira-kira satu bulan lagi di SMA Negeri 6 Caringin Kidul, dan aku pemilik nomor punggung 16, yap wajar saja, tanggal jadianku kan tanggal 16.
Setiap pulang sekolah, aku, Rendi, Gilang, Anton, dkk juga bapak pelatih Mas Tanto, kami semua melakukan latihan keras untuk memenangkan pertandingan tersebut dan semoga kami bisa menang membawa piala juga HADIAH nya, hahaha.
“Semangat ya Ka !!” itulah yang selalu Ratna katakana padaku, dia selalu membelikanku minuman saat aku latihan, dia selalu menontonku. Setiap ku selesai latihan, aku selalu mengantarkannya pulang ke rumah.
Kakaknya Ratna pun semuanya adalah pemain basket, jadi setiap aku mengantarkan Ratna pulang, kakaknya selalu berbagi ilmu denganku, mengajarkanku trik-trik hebat.
***
Sebulan pun berlalu terasa cepat, dimana saatnya pertandingan basket akan sagara dimulai, kami memasuki lapangan, kami tatap satu per satu lawannya dan permainan pun dimulai, satu hal yang terlintas di telingaku.
“Semangat Ka !!” suara Ratna di bangku penonton sambil tersenyum lepas dan melambaikan sapu tangan berwarna putih.
Dan setelah beberapa menit berlalu kami pun akhirnya membawa kemenangan, tak usah ku ceritakanlah hadiahnya apa, yang jelas aku dengan baju basketku, motorku juga pacarku, kami pergi ke suatu tempat yang berupa danau untuk merayakan kemenanganku, disana kami bercakap-cakap halnya pasangan yang akan segera menikah, agak kejauhan tapi kami yakin itu pasti terjadi.
“Tadi hebat Ka !!” terucap dari bibir manisnya sambil menatapku. Aku pun tersenyum dan mencoba mencium  bibirnya, tapi setelah beberapa detik, aku pun membatalkan niatku yang dilanjutkan dengan menghela nafas sejenak.
Aku ambil krikil, lalu ku lemparkan ke tengah danau, sambil berteriak “Aku Sayang Ratna, Dan Jangan Kau Pisahkan Kami Ya Tuhan”, Ratna pun mencium pipiku, aku tak menyangka, wajahku bisa semerah ini dan hatiku sesenang ini.
“Kenapa kau menciumku?” tanyaku pada Ratna sambil menggaruk kepalaku dan memandang langit cerah.
“Karena Eka selalu buat Na bahagia” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Hmmmm lebay dah, hahaha tapi aku terharu, lalu aku peluk dia erat-erat, tiba-tiba berbisik.
“Ka, bau badannya gak enak” aku pun segera melepaskan pelukanku. Setelah beberapa lama aku pun mengantarkan Ratna pulang ke rumahnya dan kami pun tiba.
“Siang tante” sapaku pada ibunya Ratna, dan kebetulan banget ayahnya sedang bekerja.
“Eh ada nak Eka, silahkan masuk” ibunya selalu memancarkan senyuman yang buat aku betah berada disini.
“Ibu, kaya yang jarang lihat Eka saja” Ratna pun tak mau kalah dengan ibunya.
Setelah aku masuk, aku pun duduk di sofa berwarna coklat, minuman dingin menjamuku, dan ibunya Ratna pun mulai berbicara memecah keheningan.
“Gimana? Basketnya menang?” tanya ibunya Ratna padaku, karena kebetulan Ratna pada waktu itu sedang mandi dulu.
“Alhamdulillah bu, menang” jawabku singkat.
Setelah beberapa lama kami berbincang-bincang, Ratna pun telah selesai mandi, ia terlihat sama saja, cantik. Aku pun pamit pulang, dan seperti biasa aku diantarkan sampai ke gerbang rumahnya.
Aku dan sepeda motorku meninggalkan halaman rumah pacarku tercinta. Sesampainya di rumah aku pun mandi, dan kemudian makan mie ayam yang kebetulan dagang di samping rumahku, aku sudah mengira bahwa ibu pasti sedang bekerja dan meninggalkan pesan di pintu kulkas.
“Basketnya pasti menang, selamat ya, jangan lupa bersyukur” aku pun tersenyum sambil mengeluarkan air mata, keluargaku banting tulang hanya demi diriku seorang.
***
Dua hari kemudian, sepulang sekolah, aku, Ratna, Fauzi dan Dewi mampir dulu ke kantin, rencananya Fauzi akan mentraktir kami semua, sesaat pun kami bercanda-canda, tertawa bahagia, dan 13 menit kemudian.
“Duarrrrrrrr” bunyi ledakan salah satu tabung gas.
Kami kaget mendengar suara tersabut, tiba-tiba kebakaran pun terjadi, tetapi pada saat kami akan menuju pintu keluar, tiba-tiba salah satu tiang menimpa tubuhku, sedangkan teman-temanku berhasil keluar.
“Tidak, Ekaaaaaaaaaaaaa !!” itulah suara teriakan Ratna yang masih terdengar di telingaku sambil menangis.
Semua siswa pun panik, dan melihat kebakaran tersebut, aku yang terdiam di dalam, hanya berharap ada keajaiban datang, tak lama kemudian aku pun pingsan karena asap yang buat aku sesak nafas. Tak lama kemudian tim pemadam kebakaran pun datang, sekitar 19 menit, api pun berhasil dipadamkan, aku langsung dibawa ke rumah sakit, Ratna mennghubungi orangtuaku, orangtuaku pun panik ketakutan.
25 menit berlalu, aku telah sadarkan diri, Ratna menceritakan semua yang terjadi, aku hanya bisa merintih kasakitan oleh luka bakar dan luka memar pada sekujur badanku, dikepalaku tak ada sehelai rambut pun, dokter mencukurnya karena luka dikepalaku, ternyata do’aku terkabul, aku masih selamat walau luka dimana-mana.
Setelah lima hari berlalu, aku pulang ke rumah karena lukaku sudah hampir sembuh.
“Bu, ibu bisa peluk aku gak?” pintaku pada ibu.
“Tentu saja nak, ibu bahkan rela menggantikan posisimu ini nak” dengan deraian air mata ibu pun memelukku dengan erat.
Seminggu berlalu, aku telah sembuh dari lukaku, dan sebulan kemudian rambutku mulai tumbuh kembali. Aku pun bersekolah seperti biasanya, dan aku telah melupakan kejadian bulan lalu.
***
Bersambung, yang punya ide silahkan hubungi aku !! wkwkwkwkwk

No comments:

Post a Comment